Tampilkan postingan dengan label BY GALIH BISMA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label BY GALIH BISMA. Tampilkan semua postingan

PERANAN ORANG TUA DALAM MEMBIMBING ANAK USIA 7 – 12 TAHUN MELAKSANAKAN IBADAH SHALAT

,

DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL.............................................................................................. i
DAFTAR ISI......................................................................................................... ii
KATA PENGANTAR.......................................................................................... iii
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah................................................................................ 1
B. Identifikasi Masalah....................................................................................... 4
C. Rumusan Masalah......................................................................................... 5
D. Hipotesis....................................................................................................... 5
E. Tujuan dan Kegunaan Penelitian.................................................................... 5
F. Metode yang Dipakai.................................................................................... 6
KESIMPULAN SARAN DAN PENUTUP
A. Kesimpulan .................................................................................................. 7
B. Saran............................................................................................................ 7
C. Penutup........................................................................................................ 8
DAFTAR PUSTAKA..............................................................................................


PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Telah dimaklumi bahwa orang tua memiliki kewajiban untuk memberikan bimbingan terhadap anak-anaknya dalam bidang keagamaan khususnya dalam masalah bimbingan ibadah shalat, karena shalat adalah kewajiban bagi setiap umat islam.
Dengan demikian dapat dipahami bahwa setiap orang tua sudah seharusnya dapat menjalankan tugas dan kewajibanya dengan baik dalam membimbing ibadah shalat anaknya supaya tumbuh menjadi muslim yang sejati, yang taat kepada Allah dan usaha yang dilakukan oleh orang tua itu sangat berpengaruh pada keagamaan anak.
Ibadah shalat merupakan fardu ‘ain yang artinya setiap orang tua yang telah baligh dan berakal sehat memiliki kewajiban untuk menegakkanibadah shalat. Pada dasarnya kewajiban shalat itu difardhukan atas orang-orang yang telah baligh,namun sejak anak umur 7 tahun harus dilatih untuk menjalankan ibadah shalat, sebagaimana dikemukakan dalam sebuah hadist yang artinya:
Dan Amru bin Syaib dari ayahnya dari kakanya berata bahwa Rasulullah SAW bersabda: suruhlah anak-anakmu shalat pada waktu mereka berumur 7 tahun dan pukulah mereka pada waktu berumur 10 tahun (jika tidak mau shalat) dan pisahkanlah mereka dari kamar tidurnya (HR. Abu Daud)
Berdasarkan hadist tersebut maka jelaslah bahwa anak-anak sejak umur 7 tahun harus dilatih dan dibiasakan untuk menjalankan ibadah shalat bahkan harus mulai dididik dengan keras (memukul mereka) jika telah sampai usia 10 tahun namun anak belum mau melaksanakan ibadah shalat.
Dalam memberikan ibadah shalat terhadap anak tersebut maka orang tua memiliki kewajiban untuk menjalankan peranannya di dalam membimbing pelaksanaan ibadah shalat pada anak agar kelak menjadi orang yang senantiasa memelihara shalatnya dengan baik.
Peranan orang tua terhadap bimbingan ibadah shalat pada anak tersebut adalah orang tua harus menjalankan usahanya untuk mendidik dan membiasakan penamalan ibadah shalat terhadap diri anak. Selain itu unsur-unsur usaha tersebut dapat dilakukan dengan cara :
1. Mengajarkan bacaan dan gerakan shalat
2. Menyuruh anak melaksanakan shalat
3. Menunjukan tujuan dan hikmah shalat
4. Menasehati anak supaya rajin shalat
5. Menghukum anak jika malas shalat
6. Memberikan hadiah jika anak rajin shalat
Cara-cara tersebut harus ditempuh oleh orang tua agar dalam memberikan bimbingan yang dilakukan tersebut dapat berhasil dengan baik.
Berkaitan dengan hal tersebut maka penulis ingin meneliti tentang usaha orang tua dalam melaksanakan bimbingan ibadah shalat bagi anak di RT.20/RW.07 kelurahan tejosari. Dijelaskan bahwa : ” masyarakat kelurahan inimayoritas beragama islam dan pada umumnya juga rajin dan taat dalam menjalankan kewajiban agamanya termasuk dalam menjalankan shalat lima waktu “.
Dari salah seorang tokoh agama yaitu ustad Abdullah telah memberikan penjelasan bahwa “ dilihat dari segi orang tuanya maka sebagai penduduk yang mayoritas beragama islam juga taat dalam menjalankan ibadah shalat, namun anak-anak memang rata-rata dari segi ibadahnya masih kurang sepert, kurang rajin belajar mengaji dan kurang rajin shalat berjamaah di masjid atau mushola dan pada waktu magrib masih banyak diantara anak-anak yang lebih suka bermain-mai, dimana hal ini cukup memprihatinkan dan perlu segera dibina lebih lanjut terutama ditingkatkan usaha orang tua dalam membimbing ibadah anak shalat pada anak, karena melalui bimbingan merekalah anak-anak akan berubah menjadi lebih baik.
Selanjutnya dari hasil wawancara dengan salah satu orang tua maka diperoleh keterangan bahwa : “ kami sebagai orang tua telah mengusahakan untuk membimbing ibadah shalat pada anak, dengan menasehatinya, menyuruh pergi kemasjid atau mushola, belajar agama disekolah, mengaji dirumah dan sebagainya namun anak-anak sekarang ini banyak yang membandel, sehingga untuk mengharapkan hasil yang baik sulit untuk dicapai”.
Berdasarkan keterangan tersebut maka jelaslah bahwa pada umumnya orang tua memang telah berusaha untuk membimbing ibadah shalat pada anak, namun dari segi kondisi anak-anak ternyata masih banyak yang kurang memenuhi dan kurang menyadari untuk melaksanakan ibadah shalat sehari-hari dengan baik, sehingga perlu diteliti lebih lanjut sebab-sebab
Adapun hasil pra survey yang dilakukan terhadap 10 orang tua maka dapat diperoleh data sebagai berikut:
Tabel I
Pra survey usaha orang tua dalam melaksanakan ibadah
shalat pada anak di RT.20/RW.07 kelurahan tejosari.
NO
PERIHAL
KRITERIA
TOTAL
SELALU
KADANG-KADANG
TIDAK PERNAH
1
Mengajari anak bacaan dan gerakan shalat
6
3
1
10
2
Menyuruh anak melaksanakan shalat
7
2
1
10
3
Menasehati anak supaya rajin shalat
8
2
-
10
4
Melengkapi alat-alat untuk shalat
6
4
-
10
5
Menunjukan rujukan dan hikmah shalat
8
1
1
10
6
Memberikan hadiah jika anak rajin shalat
7
2
1
10
Persentase
70%
23,33%
66,67%
100%
Sumber : angket prasurvey terhadap 10 orangtua tanggal 1 oktober 2010
Berdasarkan pada tabel di atas dapat di pahami bahwa para orang tua telah berusaha untuk memberikan bimbingan dan pembinaan ibadah shalat kepada anak-anaknya dengan harapan akan dapat mewujudkananak yang rajin beribadah shalat dalam kehidupan sehari-hari, namun dilihat dari kondisi anak-anak ternyata ibadah shalatnya masih banyak yag kurang rajin dalam melaksanakan ibadah shalatnya. Sebagaimana dari hasil angket prasurvey terhadap 10 orang anak tentang pelaksanaan ibadah shalat sebagai berikut:
Tabel 2
Pelaksanaan ibadah shalat pada anak di RT.20/RW.07 dikelurahan tejosari
NO
PENGAMATAN IBADAH SHALAT
JUMLAH
PERSENTASE
1
RAJIN
2
20%
2
KURANG RAJIN
4
40%
3
TIDAK RAJIN
4
40%
JUMLAH
10
100%
Sumber : hasil angket prasurvey terhadap 10 orang tua
Kriteria :
· Rajin = Selalu melaksanakan shalat
· Kurang rajin = Kadang-kadang melaksanakan shalat
· Tidak rajin = Jarang sekali melaksanakan shalat
Berdasarkan pada tabel di atas maka dapat diketahui bahwa anak-anak ternyata masih banyak kurang rajin menjalankan ibadah shalat.
B. Identifikasi masalah
Secara konkrit masalah yang dapat di identifikasikan adalah sebagai berikut:
1. Masalah peranan orang tua dalam membimbing anak dalam melaksanakan ibadah shalat.
2. Masalah pelaksanaan ibadah shalat anak usia 7-12 tahun
3. Masalah keberhasilan orangtua membimbing anak dalam melaksanakan “ibadah shalat”
C. Rumusan Masalah
Berdasarkan pada uraian latar belakang masalah tersebut diatas maka selanjutnya penulis merumuskan masalah penelitian ini sebagai berikut:
“Bagaimana peranan orang tua dalam membimbing anak melaksanakan ibadah shalat di RT 20 / RW 07 kelurahan Tejosari kecamatan Metro Timur Kota Metro?”
D. Hipotesis
Hipotesis merupakan dugaan yang mungkin benar dan mungkin juga salah, sebagaimana dikemukakan oleh Sutrisno Hadi bahwa “hipotesis adalah dugaan yang mungkin benar atau salah. Dia akan ditolak jika salah atau palsu dan akan diterima jika fakta-fakta membenarkannya.”
Dapat dipahami bahwa dalam upaya membimbing anak dalam lingkungan keluarga orang tua sering terhalang oleh faktor kurangnya keaktifan dan kerajinan anak terhadap bimbingan orang tua dan kondisi pengaruh lingkungan atau teman bergaul anak terkadang membuat bimbingan orang tua dalam keluarga tidak efektif.
Dengan demikian penulis mengajukan hipotesis dalam penulisan ini sebagai berikut:
“Peranan orangtua dalam memberikan bimbingan pelaksanaan ibadah shalat pada anak dilaksanakan dengan meningkatkan perhatian anak-anak dalam mengikuti bimbingan shalat oleh orang tuanya dan menciptakan kondisi lingkungan yang kondusif dalam bidang keagamaan.”
E. Tujuan dan Kegunaan Penelitian
1. Tujuan
a. Untuk mengetahui peranan orang tua dalam memberikan bimbingan ibadah shalat pada anak di RT 20 / RW 07 Kelurahan Tejosari.
b. Untuk mengetahui faktor-faktor penyebab kurang berhasilnya bmbingan ibadah shalat di RT 20 / RW 07 Kelurahan Tejosari.
2. Kegunaan penelitian
a. Sebagai upaya untuk menyumbangkan pemikiran dalam rangka meningkatkan perum perhubungan terhadap anak untuk menjalankan ibadah shalat
b. Sebagai sumber informasi aktual tentang proses pemberian bimbingan ibadah shalat pada anak.
F. Metode yang dipakai
1. Metode pengumpulan data
a. Metode interview
Metode interview adalah proses pengumpulan data dengan cara mengadakan tanya jawab dengan orang yang dapat memberikan keterangan yang diperlukan
b. Metode observasi
Metode observasi adalah pengamatan dan pencatatan dengan sistematik fenomen-fenomen yang diselidiki
Jenis observasi yang digunakan adalah observasi partisipan yaitu pengamatan dimana peneliti tidak mengambil bagian secara penuh dari aktivitas objek yang diteliti
Adapun hal-hal yang di observasi adalah kondisi sarana dan prasarana ibadah, keaktifan anak belajar mengajar serta lingkungan keagamaan umumnya.

TUGAS PENGANTAR PENDIDIKAN = ALIRAN-ALIRAN PENDIDIKAN

,
Terbitkan Entri


DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL.............................................................................................. i

KATA PENGANTAR............................................................................................ ii

DAFTAR ISI.......................................................................................................... iii

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang masalah....................................................................................... 1

1.2 Tujuan................................................................................................................ 1

BAB II PEMBAHASAN

2.1 Aliran-Aliran Pendidikan..................................................................................... 2

a. Aliran-Aliran Klasik Dalam Pendidikan dan

Pengaruhnya Terhadap Pemikiran Pendidikan di Indonesia............................. 3

1. Aliran Empirisme....................................................................................... 4

2. Aliran Natifisme........................................................................................ 5

3. Aliran Naturalisme..................................................................................... 7

4. Aliran Konvergensi.................................................................................... 8

5. Pengaruh Aliran Klasik Terhadap Pemikiran

dan Praktek Pendidikan di Indonesia......................................................... 8

BAB III PENUTUP

3.1 Kesimpulan......................................................................................................... 9

DAFTAR PUSTAKA

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Aliran-aliran pendidikan telah dimulai sejak awal hidup manusia, karena setiap kelompok manusia selalu dihadapkan dengan generasi muda keturunannya yang memerlukan pendidikan yang lebih baik dari orang tuanya. Di dalam kepustakaan tentang aliran-aliran pendidikan, pemikiran-pemikiran tentang pendidikan telah dimulai dari zaman yunani kuno sampai kini. Oleh karena itu bahasan tersebut hanya dibatasi pada beberapa rumpun aliran klasik, pengaruh sampai saat ini dan dua tonggak penting dalam kehidupan.

1.2 Tujuan

o Memenuhi salah satu tugas mata kuliah pengantar pendidikan

o Memahami tentang aliran-aliran pendidikan

BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Aliran-Aliran Pendidikan

Pelaksanaan pendidikan dan gagasan selalu dinamis sesuai dengan dinamika manusia dan masyarakat sejak dulu hingga sekarang pendidikan selalu mengalami perkembangan iptek yang berkembang di negara kita saat ini. Di dalam berbagai kepustakaan tentang aliran-aliran pendidikan, pemikiran-pemikiran tantang aliran-aliran, telah dimulai dari zaman Yunani kuno sampai kini. Untuk itu kita sebagai generasi penerus harus mengembangkan kebudayaan belajar mengajar dalam pendidikan agar lebih baik dari sebelumnya agar negara lebih maju dan berkembang.

Pemikiran-pemikiran tentang pendidikan yang telah dimulai pada zaman Yunani kuno, dan dengan kontribusi berbagai bagian dunia lainnya akhirnya berkembang dengan pesat di Eropa dan Amerika Serikat. Oleh karena itu aliran-aliran klasik atau gerakan-gerakan baru berasal dari kedua kawasan itu. Pemikiran-pemikiran itu berkembang diseluruh dunia termasuk indonesia dibawa oleh orang-orang yang beajar di Eropa atau Amerika Serikat sehingga mudah berkembang di Indonesia. Penyebaran itu mengakibatkan pemikiran-pemikiran dari kedua kawasan itu umumnya menjadi acuan dalam penetapan kebijakan di bidang kebijakan diberbagai negara.

Aliran-aliran klasik yang meliputi aliran Empirisme, Nativisme, Naturalisme dan Konvergensi merupakan benang-benang merah yang menghubungkan pemikiran-pemikiran pendidikan masa lalu, kini dan mungkin yang akan datang. Aliran-aliran tersebut mewakili berbagai variasi pendapat tentang pendidikan mulai dari yang terendah sampai tingkat yang tinggi, seperti SD, SMP sedangkan yang tertinggi SMA dan sekolah perguruan tinggi. Aliran-aliran bervariasi tentang pendapat mengenai pendidikan, mulai dari yang pesimis memandang bahwa pendidikan kurang bermanfaat, bahkan merusak masa depan anak untuk mengembangkan bakatnya, sedangkan aliran optimisme memandang anak seakan-akan tanah liat yang dapat dibentuk sesuka hati. Selanjutnya terdapat gagasan juga yang bersifat satu gerakan dalam pendidikan yang pengaruhnya masih berpengaruh pada saat ini, yakni pengajaran alam sekitar, pengajaran pusat perhatian, sekolah, kerja dan pengajaran proyek.

Gerakan-gerakan tersebut sangat berpengaruh pada cara guru dalam mengelola kegiatan belajar mengajar di sekolah seperti telah dikemukakan bahwa pengajar merupakan pilar terpenting dan pembelajaran di sekolah, utamanya kalau dilakukan pembelajaran sekaligus mendidik siswa didik agar lebih baik.

  1. Aliran-Aliran Klasik dalam Pendidikan dan Pengaruhnya Terhadap Pemikiran Pendidikan di Indonesia.

Manusia merupakan makhluk yang tidak dapat ditebak dalam pemikirannya, sehingga mampu menjelajah angkasa luar tetapi angkasa dalamnya masih belum cukup diketahui. Sehubungan dengan kajian tentang aliran-aliran pendidikan, perbedaan pandangan itu berawal dari perbedaan pandangan tentang perkembangan manusia itu sendiri. Terdapat perbedaan penekanan didalam suatu teori kepribadian tertentu tentang faktor manakah yang paling berpengaruh dalam perkembangan kepribadian. Perkembangan kepribadian itu bisa dipengaruhi oleh lingkungan karena dalam lingkungan sehari-hari dapat mempengaruhi kepribadian seseorang, bila dalam lingkungan memberi contoh tidak baik maka kepribadian seorang tersebut juga tidak akan baik, seperti keluarga yang harus memberikan contoh kepada keturunannya agar mereka lebih baik dan dapat menjadi contoh di lingkungan dimana mereka tinggal.

Teori-teori dari strategi behavioral dan strategi phenologis menekankan faktor belajar. Kedua strategi ini menekankan faktorbelajar. Tetapi mengemukakan pandangan yang berbeda tentang bagaimana proses belajar itu terjadi, akibat perbedaan pandangan tentang hakikat manusia. Strategis behavioral tergantung pada lingkungannya sedang strategi fenomenalogis memandang manusia sebagai makhluk aktif yang mampu beraksi dan melakukan pilihan-pilihan sendiri.

Perbedaan pandangan tentang faktor dominan dalam perkembangan manusia tersebut menjadi dasar perbedaan pandangan tentang peran pendidikan terhadap manusia, mulai dari yang paling pesimis sampai aliran-aliran itu pada umumnya mengemukakan satu faktor dominan tertentu saja, dan dengan demikian, suatu aliran dalam pendidikan akan mengajukan gagasan untuk mengoptimalkan faktor tersebut untuk mengembangkan manusia.

1. Aliran Empirisme

Menurut aliran ini manusia itu dilahirkan putih bersih seperti kertas putih, artinya tidak membawa potensi apa-apa. Perkembangan selanjutnya tergantung pada pendidikan dan lingkungan. Pendidik memegang peranan penting dengan menyediakan lingkungan pendidikan yang akan diterima oleh anak sebagai pengalaman guru dan orang tua paling menentukan hasil pendidikan. Pendidikan dibentuk oleh pengalaman, bukan tergantung dari dasar diri anak. Locke menyarankan bahwa guru dan orang tua berperan sebagai model, menunjukkan kualitas tingakh laku yang baik. Anak-anak harus ditunjukkan tentang dunia sebagaimana adanya, termasuk kejelekan dan bahaya sehingga akan menyadari apa yang harus dihindari dan apa yang harus dicapai. Menurut pandangan empirisme pendidik memegang peranan yang sangat penting sebab pendidikan kepada anak menyediakan lingkungan pendidikan kepada anak dna akan diterima oelh anak sebagai pengalaman. Pengalaman itu tentunya yang sesuai dengan tujuan pendidikan.

Aliran empirisme dipandang berat sebelah sebab hanya mementingkan peranan pengalaman yang diperoleh dari lingkungan. Sedangkan kemampuan dasar yang dibawa anak sejak lahir dianggap tidak menentukan, menurut kenyataan dalam kehidupan sehari-hari terdapat anak yang berhasil karena mempunyai bakat tersendiri, meskipun lingkungan disekitarnya tidak mendukung keberhasilan ini disebabkan oleh adanya kemampuan yang berasal dari dalam diri yang berupa kecerdasan atau kemauan, anak berusaha mendapatkan lingkungan yang dapat mengembangkan bakat atau kemampuan yang telah ada dalam dirinya. Meskipun demikian, penganut aliran ini masih tampak pada pendapat-pendapat yang memandang manusia sebagai makhluk yang pasif dan dapat diubah, umpamanya melalui modifikasi tingkah laku. Hal itu tercermin pada pandangan scientific psycology Skinner ataupun dengan behavioral. Behaviorisme itu menjadikan prilaku manusia tampak keluar sebagai sasaran kajianya, dengan tetap menekankan bahwa perilaku itu terutama sebagai hasil belajar semata-mata. Meskipun demikian, pandangan-pandangan behavioral ini juga masih bervariasi dalam menentukan faktor apakah yang paling utama dalam proses belajar itu sebagai berikut:

a. Pandangan yang menekankan peranan pengamatan dan imitasi.

b. Pandangan yang menekankan peranan dari dampak ataupun balikan dari sesuatu perilaku.

c. Pandangan yang menekankan peranan stimulus atau rangsangan terhadap perilaku.

Seperti yang akan dikemukakan pada butir atau aliran konvergensi pada bagian ini, beberapa pendapat dalam pandangan behavioral tersebut tidak lagi sepenuhnya ala ”Tabula Rasa” dari J. Locke, karena telah mulai diperhatikan pula faktor-faktor internal dari manusia.

2. Aliran Natifisme

Aliran ini ditokohi Schopen Hauwer (Jerman : 1788-1860) berpendapat bahwa manusia dilahirkan dengan potensi-potensi yang sudah jadi, sehingga faktor pendidikan dan lingkungan tidak ada pengaruhnya terhadap perkembangan anak, yang baik akan menjadi baik dan yang jelek akan menjadi jelek. Aliran ini berpendapat sekalipun diperlukan pendidikan, pendidikan tersebut hanya bertujuan untuk memelihara dan mengembangkan potensi yang dibawa sejak lahir. Hasil perkembangan anak tersebut ditentukan oleh pembawaan yang sudah diperoleh sejak kelahiran. Lingkungan kurang berpengaruh terhadap pendidikan dan perkembangan anak. Oleh karena itu hasih akhir pendidikan ditentukan oleh pembawaan yang sudah dibawa sejak lahir. Berdasarkan pandangan ini maka keberhasilan pendidikan ditentukan oleh anak didik itu sendiri. Pendidikan yang tidak sesuai dengan bakat dan perkembangan anak sendiri. Istilah nativisme dari asal kata Native yang berarti terlahir. Bagi nativisme, lingkungan sekitar tidak ada artinya sebab lingkungan tidak akan berdaya dalam mempengaruhi perkembangan anak. Penganut pandangan ini menyatakan bahwa kalau anak mempunyai pembawaan jahat maka dia akan menjadi jahat. Sebaliknya kalau anak mempunyai pembawaan baik maka ia akan menjadi orang baik. Pembawaan buruk dan baik ini tidak dapat diubah dari kekuatan luar.

Meskipun dalam sehari-hari, sering ditemukan anak mirip orang tuanya (secara fisik) dan anak juga mewarisi bakat dan sifat dari orang tuanya. Tetapi pembawaan itu bukanlah merupakan satu-satunya faktor yang menentukan perkembangan. Masih banyak faktor yang mempengaruhi pembentukan dan perkembangan anak dalam menuju kedewasaan. Pandangan konvergensi akan memberikan penjelasan tentang pentingnya kedua faktor yaitu pembawaan atau hereditas dan lingkungan dalam perkembangan anak. Terdapat suatu pokok pendapat aliran nativisme yang berpengaruh luas yakni bahwa dalam diri individu terdapat suatu ’inti’ pribadi yang mendorong manusia untuk mewujudkan diri, mendorong manusia dalam menentukan pilihan dan kemauan sendiri, dan yang menempatkan manusia sebagai makhluk aktif yang mempunyai kemauan bebas.

Meskipun pandangan ini mengakui pentingnya belajar, namun pengalaman dalam belajar. Itu ataupun penerimaan dan persepsi seorang banyak ditentukan oleh kemampuan memberi makna kepada apa yang dialaminya itu. Pendekatan ini sangat mementingkan pandangan holistik (menyeluruh, gestait) serta pemahaman perilaku orang dari sudut pandang si empunya perilaku itu. Terdapat variasi pendapat dari pendekatan phenomenologi/humanistik tersebut sebagai berikut :

1. Pendekatan aktualisasi diri atau non direktif.

2. Betapa pentingnya memahami hubungan ”transaksi” antara manusia dan lingkungannya sebagai bekal awal memahami perilakunya.

3. Pendekatan ”gestait” baik yang klasik maupun pengembangan selanjutnya.

4. Pendekatan ”search for meaning” dengan aplikasinya sebagai logotherapy dari viktor franki yang mengungkapkan betapa pentingnya semangat (human spirit) untuk mengatasi berbagai tantangan masala yang dihadapi.

3. Aliran Naturalisme

tokoh aliran ini adalah JJ. Rousseau (Perancis : 1712-1778). Menurut aliran ini manusia itu pada waktu lahir mempunyai pembawaan baik karena pada dasarnya manusia baik karena pada dasarnya biarkan berkembang baik di alamnya. Hukum yang mutlak bagi pendidikan masa anak-anak ialah tindakan belajar mengajak.

Tokoh aliran ini William Sterm (Jerman 1871-1939) yang berpendapat bahwa anak sejak lahir membawa potensi-potensi namun dalam perkembangan selanjutnya tergantung pendidikan dan lingkunganya. Pembawaan tidak akan berkembang dengan baik manakala tidak ada dukungan pendidikan dan aturan lingkungan. Sebaliknya pendidikan atau lingkungan tidak akan berhasil dengan baik manakala pada diri anak tidak ada pembawaan yang mendukungnya. Seorang anak memang mempunyai potensi-potensi yang berbeda-beda pada dirinya, jika potensi tersebut tidak dikembangkan tidak akan dapat ditunjukkan oleh seseorang tersebut. Lingkungan juga dapat mempengaruhi perkembangan dalam potensi-potensi anak. J.J Rousseau ingin menjauhkan anak dari segala keburukan masyarakat yang serba dibuat-buat (artificia) sehingga kebaikan anak-anak yang memperoleh secara alamiah sejak saat kelahirannya itu dapat tampak secara spontan dan bebas.

4. Aliran Konvergensi

perintis aliran ini adalah William Sterm (1871-1938) seorang ahli pendidikan bangsa Jerman yang berpendapat bahwa seorang anak dilahirkan di dunia ini sudah disertai pembawaan baik maupun pembawaan buruk. Itu semua tergantung pada lingkungan dan perkembangan potensi anak dalam belajar menyikapi perilakunya agar dapat menjadi lebih baik. Tanpa adanya dukungan lingkungan yang sesuai untuk perkembangan bakat itu. Sebaliknya, lingkungan yang baik tidak dapat menghasilkan perkembangan anak yang optimal kalau memang dalam diri anak tidak dapat menghasilkan perkembangan anakyang optimal kalau memang diri anak tidak terdapat bakat yang mengembangkan itu. Kemampuan dua orang anak (yang tinggal dalam satu lingkungna yang sama) untuk mempelajari bahasa mungkin tidak sama. Itu disebabkan oleh adanya perbedaan kuantitas pembawaan dan perbedaan situasi lingkungan, biarpun lingkungnan kedua anak tersebut menggunakan bahasa sama.

5. Pengaruh aliran klasik terhadap pemikiran dan praktek pendidikan di Indonesia.

Aliran-aliran pendidikan yang klasik mulai dikenal di indonesia melalui upaya-upaya pendidikan, utamanya persekolahan, dari penguasa penjajah Belanda dan disusul kemudian oleh orang-orang Indonesia yang belajar di negeri Belanda pada masa penjajahan seperti diketahui, sistem persekolahan diperkenalkan oleh pemerintah kolonial Belanda di Indonesia, sebelum masa itu pendidikan di seluruh masyarakat, keluarga belum dikenal.

BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Dari aliran-aliran tersebut maka dapat kita simpulkan beberapa perbedaan pandangan dalam pendidikan. Namun juga ada penggabungan dari beberapa aliran konvergensi, mempertemukan pandangan nativisme dan empirisme.

Pembawaan tidak akan berkembang dengan baik manakala tidak ada dukungan pendidikan dan atau lingkungan. Sebaliknya pendidikan dan atau lingkungan tidak akan berlangsung dengan baik manakala pada diri anak tidak ada pembawaan yang mendukungnya.

DAFTAR PUSTAKA

Juhri, 2009. Landasan dan Wawasan Pendidikan. Lampung. Lemut UM Metro Press.

http://google.com


Adsense Indonesia
 

BYTES COMPUTER FILES Copyright © 2011 | Template design by Marlboro Boym | Powered by Blogger Templates